GBP/USD Tergelincir Merespon Pembantaian Saham China

Sterling tergelincir terhadap Dolar AS, di sesi perdagangan Selasa malam. Melemahnya saham-saham global gara-gara aksi jual besar-besaran saham China, berakibat pada meredupnya sentimen risiko dan menaikkan kembali permintaan terhadap Dolar AS jelang pertemuan The Fed.

Poundsterling masih cukup sensitif terhadap sentimen risiko dalam beberapa pekan terakhir. Korelasinya pun erat dengan performa pasar saham global. Berkurangnya kasus infeksi COVID-19 di Inggris, turut mendorong mata uang tersebut stabil di atasa $1.37. Data pada Senin kemarin menunjukkan bahwa kasus baru virus Corona di Inggris turun dalam lima hari beturut-turut.

Saat berita ini ditulis, GBP/USD tergelincir 0.05% ke 1.3815. Level tersebut masih di kisaran level tinggi kemarin, dimana GBP/USD naik 0.55%.

“Sterling bergerak lebih rendah pagi ini. Sepertinya karena terdorong oleh mode yang agak gugup dan penghindaran risiko, yang mendominasi pasar pagi tadi. Biang keroknya adalah pembantaian yang berlangsung di saham teknologi China.” kata Michael Brown, analis dari Caxton FX.

“Hal ini membuat perdagangan risiko sedikit terpukul di mana-mana, dengan FX beta tinggi, termasuk Pound, tanpa terkecuali.”

Sementara itu, EUR/GBP terus tertekan. Ahli strategi ING mengatakan dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters, bahwa euro-sterling tampaknya telah menutup “bagian yang berarti” dari “salah penilaian yang terjadi sebelumnya”. Saat ini, pasangan mata uang tersebut mendekati nilai wajar jangka pendek 85 pence, berdasarkan model nilai wajar keuangan mereka.

“Kami memperkirakan euro-sterling akan tetap kokoh di kisaran 85-86 pence hari ini. Posisi GBP spekulatif yang lebih bersih (yaitu GBP tidak lagi terlalu overbought) juga menunjukkan stabilitas jangka pendek dalam mata uang.”

Menantikan Rapat BoE

Selain pertemuan Fed dua hari yang dimulai malam ini, investor juga akan melihat pertemuan Bank of England minggu depan untuk arah masa depan. Salah seorang anggota pembuat kebijakan suku bunga BoE Gertjan Vlieghe, dalam sebuah acara pada hari Senin kemarin mengatakan bahwa bank sentral tidak boleh mengurangi stimulus setidaknya hingga tahun 2022. Hal itu karena kenaikan inflasi baru-baru ini kemungkinan akan bersifat sementara dan COVID-19 tetap menjadi ancaman bagi perekonomian.

Tinggalkan sebuah Komentar

Copyright © 2021. All Rights Reserved. Seputar Forex
Peringatan Resiko: Trading Forex adalah Bisnis berisiko tinggi, anda bisa kehilangan semua uang deposit. Jangan Pernah invest jika anda tidak siap untuk rugi. Seputar.Forex tidak akan menerima tanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan sebagai akibat dari ketergantungan pada informasi yang terkandung dalam situs web ini termasuk data, kutipan, grafik, link pihak ketiga dan sinyal beli / jual. Harap pelajari dan pahami sepenuhnya mengenai risiko tertinggi terkait dengan perdagangan pasar keuangan.